Archives

Hukum qunut pada shalat subuh

 

Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur'an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid'ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّ. وَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ

"Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu adalah tertolak". Dan dalam riwayat Muslim : "Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak".

Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.

Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.

Uraian Pendapat Para Ulama

Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.

Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi'iy.

Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.

Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa'd, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.

Dalil Pendapat Pertama

Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

"Terus-menerus Rasulullah shollallahu 'alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia".

Dikeluarkan oleh 'Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma'ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba'in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-'Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama' wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.

Semuanya dari jalan Abu Ja'far Ar-Rozy dari Ar-Robi' bin Anas dari Anas bin Malik.

Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin 'Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : "Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i' bin Anas adalah Abu Ja'far 'Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)". Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : "Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)". Berkata Abu Zur'ah : " Yahimu katsiran (Banyak salahnya)". Berkata Al-Fallas : "Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)". Dan berkata Ibnu Hibban : "Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar"."

Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma'ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja'far Ar-Rozy, beliau berkata : "Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja'far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya".

Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja'far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja'far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : "Shoduqun sayi`ul hifzh khususon 'anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).

Maka Abu Ja'far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.

Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :

Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ

"Sesungguhnya Nabi shollallahu 'alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo'a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo'a (kejelekan atas suatu kaum)" . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.

Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja'far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ

"Sesungguhnya Nabi shollahu 'alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh".

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.

emudian sebagian para 'ulama syafi'iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :

Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :

قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ

"Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman, dan saya (rawi) menyangka "dan keempat" sampai saya berpisah denga mereka".

Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :

Pertama : 'Amru bin 'Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma'ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan 'Amru bin 'Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu'tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).

Kedua : Isma'il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma'il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.

Catatan :

Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja'far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami 'Abdul Warits bin Sa'id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ

"Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau".

Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja'far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I'tidal 1/418. Karena 'Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari 'Amru bin 'Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu 'Umar Al Haudhy dan Abu Ma'mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari 'Abdul Warits-.

Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da'laj dari Qotadah dari Anas bin M alik :

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ

"Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang 'umar lalu beliau qunut dan di belakang 'Utsman lalu beliau qunut".

Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja'far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : "Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma'in dan Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma' in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.

Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya "Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia", itu tidak terdapat dalam hadits Khal id. Yang ada hanyalah "beliau (nabi) 'alaihis Salam qunut", dan ini adalah perkara yang ma'ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)".

Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin 'Abdillah dari Anas bin Malik :

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ

"Terus-menerus Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa a lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal".

Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.

Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin 'Abdillah, kata Ibnu 'Ady : "Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)". Dan berkata Ibnu Hibba n : "Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya".

Kesimpulan pendapat pertama:

Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.

Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.

1) Doa

2) Khusyu'

3) Ibadah

4) Taat

5) Menjalankan ketaatan.

6) Penetapan ibadah kepada Allah

7) Diam

8) Shalat

9) Berdiri

10) Lamanya berdiri

11) Terus menerus dalam ketaatan

Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur'an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.

Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.

Dalil Pendapat Kedua

Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))

"Adalah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I'tidal) berkata : "Sami'allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. "Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, 'Ayyasy bin Abi Rabi'ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri'lu, Dzakw an dan 'Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim". (HSR.Bukhary-Muslim)

Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :

Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.

Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :

وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.

Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : "Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya' dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir".

Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah .

Dalil Pendapat Ketiga

Satu : Hadits Sa'ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja'i

قُلْتُ لأَبِيْ : "يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ" فَقَالَ : "أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ".

"Saya bertanya kepada ayahku : "Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan 'Ali radhiyallahu 'anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?". Maka dia menjawab : "Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid'ah)". Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.

Dua : Hadits Ibnu 'Umar

عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : "صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ". فَقُلْتُ : "آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ", قَالَ : "مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ".

" Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu 'Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku". Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1246, Al-Baihaqy 2213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma' Az-Zawa'id 2137 dan Al-Haitsamy berkata :"rawi-rawinya tsiqoh".

Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari'atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.

Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu 'Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa berkata : "dan demikian pula selain Ibnu 'Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid'ah".

Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari'atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :

1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.

2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.

Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari'atkannya qunut shubuh secara terus-menerus dengan membaca do'a qunut "Allahummahdinaa fi man hadait…….sampai akhir do'a kemudian diaminkan oleh para ma'mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.

Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Z adul Ma'ad.

Kesimpulan

Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehinga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid'ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a'lam.

Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma'any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu' 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi' : 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib), Majm u' Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma'ad 1/271-285.

Baca selengkapnya Bagikan

Tata cara shalat tarwih & witir sesuai sunnah



Tarawih merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah. Secara bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian perbuatan duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai shalat malam 4 rakaat disebut tarwihah; karena dengan duduk itu orang-orang bisa beristirahat setelah lama melaksanakan qiyam Ramadhan.
Menegakkan Shalat malam atau tahajud atau tarawih dan shalat witir di bulan Ramadhan merupakan amalan yang sunnah. Bahkan orang yang menegakkan malam Ramadhan dilandasi dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.
Sebagaimana dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ قاَمَ رَمَضَانَ إِيـْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Siapapun yang menegakkan bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim 1266)
Pada asalnya shalat sunnah malam hari dan siang hari adalah satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:
« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »
“Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)
Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang lain dikatakan:
« صَلاَةُ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ »
“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat – dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah) (At-Tamhiid, 5/251; Al-Hawadits, 140-143; Fathul Bari’ 4/250; Al-Muntaqo 4/49-51)
Maka jika ada dalil lain yang shahih yang menerangkan berbeda dengan tata cara yang asal (dasar) tersebut, maka kita mengikuti dalil yang shahih tersebut. Adapun jumlah rakaat shalat malam atau shalat tahajud atau shalat tarawih dan witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lebih dari 11 atau 13 rakaat.
Shalat tarawih dianjurkan untuk dilakukan berjamaah di masjid karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan hal yang sama walaupun hanya beberapa hari saja. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir rahimahullah, ia berkata:
“Kami melaksanakan qiyamul lail bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam 23 Ramadhan sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan sampai separuh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasa’i, Ahmad, Al-Hakim, Shahih)
Beserta sebuah Hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata:
Kami puasa tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih) hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi – pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari – pent) beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’, maka beliau bersabda:
« مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتىَّ يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »
“Barang siapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya shalat malam semalam suntuk.”
Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. Saya (perowi) bertanya ‘apa itu falah?’ Dia (Abu Dzar) berkata ‘sahur’. (HR. Nasa’i, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih)
Hadits itu secara gamblang dan tegas menjelaskan bahwa shalat berjamaah bersama imam dari awal sampai selesai itu sama dengan shalat sendirian semalam suntuk. Hadits tersebut juga sebagai dalil dianjurkannya shalat malam dengan berjamaah.
Bahkan diajurkan pula terhadap kaum perempuan untuk shalat tarawih secara berjamaah, hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu yaitu beliau memilih Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam untuk kaum lelaki dan memilih Sulaiman bin Abu Hatsmah radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam bagi kaum wanita.
Tata Cara Shalat Malam
Perlu kita ketahui bahwa tata cara shalat malam atau tarawih dan shalat witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada beberapa macam. Dan tata cara tersebut sudah tercatat dalam buku-buku fikih dan hadits. Tata cara yang beragam tersebut semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Semua tata cara tersebut adalah hukumnya sunnah.
Maka sebagai perwujudan mencontoh dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaklah kita terkadang melakukan cara ini dan terkadang melakukan cara itu, sehingga semua sunnah akan dihidupkan. Kalau kita hanya memilih salah satu saja berarti kita mengamalkan satu sunnah dan mematikan sunnah yang lainnya. Kita juga tidak perlu membuat-buat tata cara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengikuti tata cara yang tidak ada dalilnya.
Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:
  1. Beliau membuka shalatnya dengan shalat 2 rakaat yang ringan.
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang.
  3. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya hingga rakaat ke-12.
  4. Kemudian shalat witir 1 rakaat.
    Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Kholid al-Juhani, beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, maka beliau memulai dengan shalat 2 rakaat yang ringan, Kemudian beliau shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir 1 rakaat.” (HR. Muslim)
    Faedah, Hadits ini menjadi dalil bolehnya shalat iftitah 2 rakaat sebelum shalat tarawih.
    Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:
    1. Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
    2. Kemudian melakukan shalat witir langsung 5 rakaat sekali salam.
      Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan tidur malam, maka apabila beliau bangun dari tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Setelah itu beliau shalat delapan rakaat dengan bersalam setiap 2 rakaat kemudian beliau melakukan shalat witir lima rakaat yang tidak melakukan salam kecuali pada rakaat yang kelima.”
      Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:
      1. Melakukan shalat 10 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
      2. Kemudian melakukan shalat witir 1 rakaat.
        Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:
        كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يُصَلىِّ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَ هِيَ الَّتِي يَدْعُوْ النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلىَ الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلَّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ
        “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam atau tarawih setelah shalat Isya’ – Manusia menyebutnya shalat Atamah – hingga fajar sebanyak 11 rakaat. Beliau melakukan salam setiap dua rakaat dan beliau berwitir satu rakaat.” (HR. Muslim)
        Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:
        1. Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 4 rakaat.
        2. Kemudian shalat witir langsung 3 rakaat dengan sekali salam.
          Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata:
          مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً
          “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim)
          Tambahan: Tidak ada duduk tahiyat awal pada shalat tarawih maupun shalat witir pada tata cara poin ini, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan ada larangan menyerupai shalat maghrib.
          Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:
          1. Melakukan shalat langsung sembilan rakaat yaitu shalat langsung 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam.
          2. Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.
            Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:
            كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ (رواه مسلم)
            “Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari, lantas tatkala beliau bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian beliau melakukan shalat malam atau tarawih 9 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan lantas membaca pujian kepada Allah dan shalawat dan berdoa dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kesembilan kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca dzikir, pujian kepada Allah, shalawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan shalat lagi 2 rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu’, mutawatir)
            Faedah, Hadits ini merupakan dalil atas:
            1. Bolehnya shalat lagi setelah shalat witir.
            2. Terkadang Nabi shalat witir terlebih dahulu baru melaksanakan shalat genap.
            3. Bolehnya berdoa ketika duduk tasyahud awal.
            4. Bolehnya shalat malam dengan duduk meski tanpa uzur.
            Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:
            1. Melakukan shalat dua rakaat dengan bacaan yang panjang baik dalam berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
            2. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
            3. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
            4. Setelah bangun shalat witir 3 rakaat.
              Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
              …ثُمَّ قَامَ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فَأَطَالَ فِيْهْمَا الْقِيَامَ وَ الرُّكُوْعَ وَ السُّجُوْدَ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَامَ حَتَّى نَفَغَ ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ سِتُّ رَكَعَاتٍ كُلُّ ذَلِكَ يَشْتاَكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يَقْرَأُ هَؤُلاَءِ الآيَاتِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلاَثٍ
              “…Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri melakukan shalat 2 rakaat maka beliau memanjangkan berdiri, rukuk dan sujudnya dalam 2 rakaat tersebut, kemudian setelah selesai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring sampai mendengkur. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal tersebut sampai 3 kali sehingga semuanya berjumlah 6 rakaat. Dan setiap kali hendak melakukan shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak kemudian berwudhu terus membaca ayat (Inna fii kholqis samawati wal ardhi wakhtilafil laili… sampai akhir surat) kemudian berwitir 3 rakaat.” (HR. Muslim)
              Faedah, Hadits ini juga menjadi dalil kalau tidur membatalkan wudhu
              Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:
              1. Melakukan shalat langsung 7 rakaat yaitu shalat langsung 6 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke-6 tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam. Maka sudah shalat 7 rakaat.
              2. Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.
                Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah yang merupakan kelanjutan hadits no.5 beliau berkata: “Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tua dan mulai kurus maka beliau melakukan shalat malam atau tarawih 7 rakaat. Dan beliau melakukan shalat 2 rakaat yang terakhir sebagaimana yang beliau melakukannya pada tata cara yang pertama (dengan duduk). Sehingga jumlah seluruhnya 9 rakaat.” (HR. Muslim 1233)
                Disunnahkan pada shalat witir membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Ikhlas pada rakaat yang kedua dan membaca surat al-Falaq atau an-Naas pada rakaat yang ketiga. Atau membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Kafirun pada rakaat yang kedua dan membaca al-Ikhlas pada rakaat yang ketiga.
                Tata cara tersebut di atas semua benar. Boleh melakukan shalat malam atau tahajud atau tarawih dan witir dengan cara yang dia sukai, tetapi yang lebih afdhol adalah mengerjakan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti. Karena bila hanya memilih satu cara berarti menghidupkan satu sunnah tetapi mematikan sunnah yang lainnya. Bila melakukan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti berarti telah menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin.
                Adapun pada zaman Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu Kaum muslimin melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat, 13 rakaat, 21 rakaat dan 23 rakaat. Kemudian 39 rakaat pada zaman khulafaur rosyidin setelah Umar radhiyallahu ‘anhu tetapi hal ini khusus di Madinah. Hal ini bukanlah bid’ah (sehingga sama sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk adanya bid’ah hasanah) karena para sahabat memiliki dalil untuk melakukan hal ini (shalat tarawih lebih dari 13 rakaat). Dalil tersebut telah disebutkan di atas ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat malam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
                « مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »
                “Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)
                Pada hadits tersebut jelas tidak disebutkan adanya batasan rakaat pada shalat malam baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Batasannya adalah datangnya waktu subuh maka diperintahkan untuk menutup shalat malam dengan witir.
                Para ulama berbeda sikap dalam menanggapi perbedaan jumlah rakaat tersebut. Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat tersebut dengan metode al-Jam’u bukan metode at-Tarjih (Metode tarjih adalah memilih dan memakai riwayat yang shahih serta meninggalkan riwayat yang lain atau dengan kata lain memilih satu pendapat dan meninggalkan pendapat yang lain. Hal ini dipakai oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam menyikapi perbedaan jumlah rakaat ini. Metode al-Jam’u adalah menggabungkan yaitu memakai semua riwayat tanpa meninggalkan dan memilih satu riwayat tertentu. Metode ini dipilih oleh jumhur ulama dalam permasalahan ini). Berikut ini beberapa komentar ulama yang menggunakan metode penggabungan (al-Jam’u) tentang perbedaan jumlah rakaat tersebut:
                • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ia boleh shalat 20 rakaat sebagaimana yang masyhur dalam mazhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 rakaat sebagaimana yang ada dalam mazhab Malik. Boleh shalat 11 dan 13 rakaat. Semuanya baik, jadi banyak atau sedikitnya rakaat tergantung lamanya bacaan atau pendeknya.” (Majmu’ al-Fatawa 23/113)
                • Ath-Thartusi berkata: “Para sahabat kami (malikiyyah) menjawab dengan jawaban yang benar, yang bisa menyatukan semua riwayat. Mereka berkata mungkin Umar pertama kali memerintahkan kepada mereka 11 rakaat dengan bacaan yang amat panjang. Pada rakaat pertama imam membaca 200 ayat karena berdiri lama adalah yang terbaik dalam shalat. Tatkala masyarakat tidak kuat lagi menanggung hal itu maka Umar memerintahkan 23 rakaat demi meringankan lamanya bacaan. Dia menutupi kurangnya keutamaan dengan tambahan rakaat. Maka mereka membaca surat Al-Baqarah dalam 8 rakaat atau 12 rakaat.”
                • Imam Malik rahimahullah berkata: “Yang saya pilih untuk diri saya dalam qiyam Ramadhan adalah shalat yang diperintahkan Umar yaitu 11 rakaat itulah cara shalat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun 11 dekat dengan 13.
                • Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz berkata: “Sebagian mereka mengira bahwa tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat. Sebagian lain mengira bahwa tarawih tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini semua adalah persangkaan yang tidak pada tempatnya, BAHKAN SALAH. Bertentangan dengan hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa shalat malam itu muwassa’ (leluasa, lentur, fleksibel). Tidak ada batasan tertentu yang kaku yang tidak boleh dilanggar.”
                Adapun kaum muslimin akhir jaman di saat ini khususnya di Indonesia adalah umat yang paling lemah. Kita shalat 11 rakaat (Paling sedikit) dengan bacaan yang pendek dan ada yang shalat 23 rakaat dengan bacaan pendek bahkan tanpa tu’maninah sama sekali!!!
                Doa Qunut dalam Shalat Witir
                Doa qunut nafilah yakni doa qunut dalam shalat witir termasuk amalan sunnah yang banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya. Karena tidak mengetahuinya banyak kaum muslimin yang membid’ahkan imam yang membaca doa qunut witir. Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai qunut dalam shalat witir dan terkadang tidak. Hal ini berdasarkan hadits:
                كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقْنُتُ فِي رَكْعَةِ الْوِتْرِ
                “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang membaca qunut dalam shalat witir.” (HR. Ibnu Nashr dan Daraquthni dengan sanad shahih)
                يَجْعَلُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ
                “Beliau membaca qunut itu sebelum ruku.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud dan An-Nasa’i dalam kitab Sunanul Qubro, Ahmad, Thobroni, Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad shahih)
                Adapun doa qunut tersebut dilakukan setelah ruku’ atau boleh juga sebelum ruku’. Doa tersebut dibaca keras oleh imam dan diaminkan oleh para makmumnya. Dan boleh mengangkat tangan ketika membaca doa qunut tersebut.
                Di antara doa qunut witir yang disyariatkan adalah:
                « الَلَّهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِناَ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَباَرِكْ لَناَ فِيْماَ أَعْطَيْتَ، وَقِناَ شَرَّ ماَ قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّناَ وَتَعَالَيْتَ، لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ »
                Maraji’:
                1. Shohih Muslim
                2. Qiyaamur Ramadhan li Syaikh Al-Albanyrahimahullah
                3. Sifat Tarawih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
                4. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
                5. Majalah As-Sunnah Edisi 07/1424H/2003M
                6. Tata Cara Shalat Malam Nabi oleh Ustadz Arif Syarifuddin, Lc.
                Baca selengkapnya Bagikan

                Paham Sufi dalam Timbangan Al-Qur’an dan Assunnah

                data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhQSERQTExQWFRUVGRoaGBgYGRoYGxobGBgYGhsYFxcbGyYeGBojGhgWHy8gJCcpLCwsGB4xNTAqNSYrLCkBCQoKDgwOGg8PFykcHRwpKSkpKSkpKSkpKSkpKSksKSkpKSkpKSkpKSkpKSwpKSkpKSwsKSkpKSkpLCksLCksKf/AABEIAOMA3gMBIgACEQEDEQH/xAAbAAACAwEBAQAAAAAAAAAAAAACAwEEBQAGB//EAEAQAAECAwUFBgQEBQMEAwAAAAECEQADIQQSMUFRBWFxgfAGIpGhscETMtHhFEJS8QcjM2JyQ4KSFRZTc6Kjsv/EABkBAAMBAQEAAAAAAAAAAAAAAAABAgMEBf/EACMRAQEAAgICAgIDAQAAAAAAAAABAhEhMQMSQVEicRMyYVL/2gAMAwEAAhEDEQA/APosxSS17FIOrdfSAVMyejQMuzOVGgx1iEEk8OIwOGHTxw3h0aBdZTZA5YxykglyKxYUkHPj1xjlCrB6CEYQ5FeHLhyhUyUFkEV065Q+VamdxnTTD94KZNGDYEcIUgVkkAHf5ZQE8aZwyYQcjyNYIqcvdbTrhAaqQxJBzoR6RKp10Cjk4HnDUMzY1fTOAuACg9acIQclTkuPoARClSHc0bKHSZmpPKHhQu0B5j6YQgpTAurMxZ2rXlDESwzGjQxM4VY1JHh4wKJ2Rq+X3igdOBeg58opzbMQpwccjVsTzix8Yh8335a9aRPzLGJNK+MBFS5hDvln4xfsNlAvF8W9YqfhgHN48NAd2kMk2lhvrQbiIC0YWBbGnT+MV7re3XOCEwEt9+s4KYjPn6U9YLQVccYvpATJABc58GzxEOlzG65QmcbzitWbwgECmYGAZ/CLibpd9d46rFCUFJ+kXLOmr4nKKPYvzUGG7CK9psygXGmHhFcbdkptf4cquTVAKSF91KwX/pqwJFQRQxoz6ilWzBesPVTKrJWRQ6Puyp5QH4MqLhTA7oPHvO1cOcR8TWEtb+GzganHfi3KDVvgXiFH19YCCli7dVMAxoRHKUxpn0I8/b+07zfw1lT+In/mDtLljWasYH+0Vgk2Lw3iXwxpzd4MrLMc4x5ewitIVaZy5qiaoS8uUNwQkgniomD/AOhyBhJl1ZmSAW3Ed7zeDifIjSVu6yaAUrA9Zxnyr0qYmUVFSF3ggqLlKkVMu8aqF2oJL0IeLs6cAkklgA5JwAAJfg0RZyaptDaqZQT+ZayyEJ+ZZ0GgGJOAHKFInzviIBWFKU5WhKRcSioe8e8VFV0AvVjRhHnuzlrm2xc21hJAUSiUpYZKJSc0j861mpalA5yj1NjsolpJBJUaqUqpUov3iRnloBQNGl/GaKc9LUyWzVxw9feIvEOHxFYj4tCDRi/3+0Q9csveMquHplgANidKHmI6VK72FRp1jBSCSp3imdtOZhlJvpQ99T3UApDkBTG8oMxagzMVJam8NGclIZ04Z48oEJJXeBADJo2kct1BJ1AbJnrBoLAnRmyhEZLQxckaBhlp6RSVPZ3frWGrmEHu5hvvuziotRJIIqQ+tamABkrVmabhvfSLqJxugHMMeWsZ8o94vSvX1hklwWSqj+phaBtofDF8KU3huUEJYIq46+kEJpIZzQuCRnn6mFTbQSakHQ8IoJKEg5g6PvxeDsasAOOsJckEnAEe0darYJEozV0JFMtaxOefrNqxm7p5rtbsGVarQVWgGVKsyHM0EAkkuAg6AjxJjyX8OtsqG0VPfUicFICheuFSSFJUrK9dBD798aybFM2gtaFFQlqqpqXUvjxJoB9I99YrEiRKTKlC6hAYAep1O+NfH5/bDoZ4etHOnMN9PCFoYB29YZNQFDFsWhakAjEgQkrjhuOPWUAVgvXx9Ihc7mKekY/afbX4WzTZzfKnujVRokPxI8Ic5ugx+1PaabMnjZ1jI+PM/qzcpKM+BapOIoBUxt7F2DLsckS5IpipRqpas1KPGMD+G2xjKsptU2s61G+pSsbpJKRzPe8I9bMtQSO8W4sOVYrP/mJn24rIGXWUTZiQCwd8t2vCOXU03dcNYzBb1zRdkMEuQZx+U/8AqH58+8e6DqzRlMbavorbFsuzbMlitTrXdSHVSWpIevdTeUkXiW30jyv8TtqzU2VCFrZc1V1MtCiwSA6ipVDMNQMhXDOPTbGsib65yQWWyULVVS0pJdalZ31mmV1KcI8Dtqf+P23KkisuSoJOjS++snmLvIRvjqXX0jLr9vouw7B8GzSpQHyS0g5VAc8e8VReK/Tp4K4/R4+MKmGrsY5redtZqDKTic/q1INBGauGnCEKmnDcWpy5PrHnO3facWSQDLV/OmOlAZikVdddB5xUx9rordQdu2qu1Wk2KzrISmtpmp/Kn/xIVkpWD5V3xpiYmZds0pITIlMJqhh3WPwUcT85yDjEmMDshsVcqzBCSUGZ3p0386yfyy3wDUvnFzd1D+1vZCbaZUmRImJkyUk30l2OYLB7zMqhxJeN+JdM+e3uZ+LZBjuziZswEbv2jN2ZK+FKRKckS0JS5xISAmu+kWprAUDO4Z+EYXtWgvh56wExAJpe0riMYbZ60OeekRaaPhRj4tj9YnZqCEC9iD5Nj7RelTe7TAkfXwhEyQyR3hed6b8m3PEkMKe3H2h7B6sLz1B8tW8IUmbefT04DxgZlqyZwWD+8TZZF5RDlsSffDjCtk5oixKSEpUpVECuOOceB7QbRmWqfdlArQVAXbzOcHBySkVI0jR7XbfKz+HlFgPmI6xjS7ObHTJlXlJ75HG6NBvfExjhb5Mv8bzGeObvbR2Ls9MiWEpqcVK/UfYaCLil9c4VfAISke0MmHlHX66mowtt5dfhclsfeOemMcVVbPoZQgkjNnz40wjwv8XlFVlkSx/qT0pNdxbzPlHvlV1/ePK/xC2UZ1kvywVLkLTNAzVcPeA/2v4Q8P7JvL0dnsyUJSlLBKEgJ/2sPZo8L2x7Mrt5Uv4qJXwZpSq+CwQES7rAZuVFsyqPcSp6VShNCh8NSL4LhrpF68TuEZcvZ5tC/wAQ6pYAHw0gDvAUTMmpUCCWPdFCkZuaVhxbaLNo2fsxUyUiXMvfCQlKRLPzTAlIAVO01+GD/loHqBtDypbCUKTFigIFDKlkeCiMACBXBytllf8AVmqWM0j+Wk/5XQ6q5XuWUI2xtqRYpRXNUEgUQgUKiMEoA/aC3Y1pm9s+0SLFZlKDCYe7JSMi1KfpSK+GseZ/hX2dUhEy2zQQZgKZZP6cVrJODkeSoiw9mZ+0p4tdtSUSg3w5NQSnIHAhJepxO6ND+JO21SZEqyyB354uhKckAgXQMr1E0yeK4/pOyt+WTZ7dM2rtMlC1ps0lnukpvJBzbNav/iN0a38R+0hkSRZ5T/GnU7uKUPiMwTQDnGlsPZSdl2IXvmCSuaRipRegpkA3idY8p2HsSrdbJm0J7kIV3BkFZM+SB5kQalu/iCT4+3q+z2yPw1ka0LK13b80rJU2ZT3n7qUjxePH9mbKjaO0ZtoUgJs8n5U3RdOSEkM1arPCND+JfadVLFIcrmEXyMw7BCeJZ9zDWPT9nNgIsdlTKd1sTM/uWcSK5YDhBfxly+arul7ZtsmxWeZO+Gh0gXGAqo0CXxIPtGL/AA2s8+YF2u0TFqvkiWlSlNUm8sIwxoOesZPaMK2jtBNjllpUj+orJx86uIe6N7mPfye4Eypd0G7dQMglI+Yj9IHiWGZacvxx180pzWlrvHuPvE/f1ivJkhCQHdsyS5xr5ww4cveMWmjpRDud0RNnuGam7rfCkr5/vDJqgC43ZecIp2C8MOsT6xJSlmwfA8IWtRYdb6DjHA8vXgILwrgSJbqYOS/7cozu0/aD4KPhSy61aa58oubct6bNIUSopWsUY1qcOceR7P7OmWqcpc5JugB1ZKJ/IkZAZ8N8YZS59NMZJzWj2Y2OUgT1sST3b2dPnPt4x6aVMdQqM4WbO+77UwiLhBp9aP8AvHR48fWMs8vZYTMBJbrlCZVoqRliOcQlNeGcKuAqOIbPdr6xtbvpK0tUQ9XzjlMQG6wgZaHiNBcK2DfvArS8Go11ZvRmjnGHWcBR5i0bMIm/CkkfCDTZklRIQ5UbqEKAJQlSgpZSxT3BgCX1Pxc5yPw5rmJstsRgSx8oizsm0zQr/VQhSC//AIypK0gah0ngoxoTE6Z9V6yisshGXN/Froj4EkfqUTOXnglko1xJirZOyMlC/jTSq0Tn/qTSFN/glrqBowj0CU1qevrEFAJ98wIn2vwNK0xLY1BIqM6iMPbnZn4tostqSAVyCe6okJUk4MpiykmuEbxSWd8D56iIV8r+H7RMy1TvMZ1vsRny1omfnQUd1yEgirPUnU0+uJs+yGw2IS5hShEkKKpiFd5QJKnSG7qi4GJY4R6cKJL6deMeQ25IVtGd+HQSLNKU86YPzrGEpBzbPQ8BF+O2/oX/ABi9idkKtM9e0JiWSFESU+VCcbooDmXMfQDgOtYmz2VKEfDSkBKQAkDAAYU6x4xKuLDTfXXxifJl7U8cdRgbI7PKs9otC5YC/wAQQoFSmKC5vJUADeS5cNX1jbscgIN4l1Ka8pqZ0GiQ5Ye8WJRZy9EjEszauYz1bYSpxJCpxf8AI1wEA4zCyBhqTuhX2yHEaYIFcRv5xCgGcsA1TT1wyzjMTKnzHdaJIAcBA+IvmtYCX4JPGG/9IlO6wZqh+aYozCK5BXdHIQ9T5p7+kK25KJZBVNOktKpnmkFPiRBLt05QZEm6NZsxIP8AxRePIkRaRRmoMt3LCBlElhnC3J1CsU1y5xDGalH+Et8v1LUa8ouWeQJCPjTZsxQFUhRSxOt0JGGUMk2dwVKolLOdSMo8jt3ayrXNEtPyAswzOQ4DOMfJ5b/WLww2VMC7bPvF7owfIP8AMeOUels+xJSWAChgaTJmNHNFAVgbHYRJTdzNSdTpyh6CXeDx4+vKs7uaMNiCWCZk0D/2qV5LKhAJXNSD30qGigAf+SGAPFMSskp5YU6aOQvVj16xvMqysKFqBN1SShZwCqpUdEqFFZ0od0MKwlQABqK19eWULtSQpJSoApNCMeqxREwylAPeSSyCcUlqS1ajFlbmORL/AEG7JnU3RKF1xxjJTaVFt31zh4tr4U1fUsc4XsNNtKSCQath40x4QSqFyIAKzavHDWkHcN3i2MGkq8+QJoYkoOIUmhSaVGXEYEUwhKrWuX/UTQf6iASkjVSfmQfEb40GoQNMoGccsRho2tYN/YKssxK03kkLBAqkvuyg0y88dfo0IOzJajeUkPqHSr/kgg+cAuxU7s+cndeCtf1oUfODQMnzKaEYxmT9ogKKbk2hakpZB3pUAxEOVYplf56m/wDXLPibopygP+nLJYz5opilMlIH/wBcPR8q0yVNnd0vKQcQD/MWMw6S0sbwSrhFlKZUiWlPdlJTQAkJTTi1cImZskMHmTluCC8xQHggp6eFp2RKRUS0hWL3XP8AyIJMG50cJRteWpTITMmkf+NBIwp31MgeMcr8TMekuSN/81Tf4i6gH/cYvVJHDM8sYLN/OJ9pOoeqoDY0ssZqlTlCv8wgpH+MsAIHFni6rIDw3VwGWdIJWVH++tYAY88Ym5WnJoKT6RMyow59cBAKLEHE6QE3EkGhwx5eNIUMT0bh00OsllK1MGFS5qwEV5SSohKcSfrugu0m2xZZXwkVmq984nPLQk9rpjdsdoJMxMqSVAywQplFmOIIwclq4wvs/stUtIUtIC1AUBe6M6/qOfhCdi7L/wBRdXrXMvjwGUbpQp+tIjDnmtMvxnrDWwGmu+F3dW65RIGasKeQ68YTLWDx3eddMI1ZHTAAMc/LyiKK3M/GkAQ/njvpSGBAcYmuedIotuRJBFKty/eK1rsouEXmB8QcQRvcAxdSoAFqnAcoC4FA0oceuEFtF6ZUiaSl272Yr8wJChUYOIeqcSAwANX8tBCpBZa01xChQv3hWnFJMPTNGV4NufM40hcq7eiM8CobGvLdDELcV5NSKVnW7nrOLYFWzY/V8IuMzZKgxcNk+sRQGh608oIWlnDeMVFguzQqUPnKGLENTjAfEdtBn1xxiHcMKHr1htM8/tBs9FLPdIfPyekKuhIBVQbzg5ZuJwizOHdZLAOC9CcehArlhQrUZgje4g2NISo6cN30zimtarxKg2/c7ekReU5GX7+UTOVi9Sx5ezivhE7VIWuZzwgmfDpoWpIc4s3tjEFVDw9hhE7U68+OcStTwJXvr0I5fm4g2EFA7o8+LfQwtYLg5UHpj4xHwyT00XbPKShBnTCyR8vLOuLQrlMeaAWm2oskkrX/AFFDocY8hYZC7RMVNmVJ8hkkab4rzrRNtU5IJUtIJuqYAAA0UquLYax6VFmEtISnAb9cSeMYzC28tdzGcdmgtQMMNNMOMTLmXSSX4acNeED8TdlXPyw0gF0LnPrlHROmRi0lRIqHzg5CuusIETAKnKvHy6aFKmEnAvwhwqcM2q+7cPvBrUymHl+2MFJRgcHxyhipF0EsSWLVNM/eKidFyiDTQ544wV+hLO79CESg9H7zBxly5wQQ7l3YYcc4KfwrWdP85Zq/w0eJMzzhtlJqznDEcXhEmbWcqo7wTT+xNT/yK4mXMCRmOe6FeDjbkymph48IctZxA+unODlKcO7truaDlzBlXfx1ikAlocDFzlmzQNqQzEk4+LRYQACdNcMNIQqYcH3vXPc8GQnYCveYhaqddbogHQ8YJqbvvErLmBRwyp1zrDb5++sckM53RPwn8omjZCLzF8Xr9t0LId4sKknlAKQ1YkyiihPt4RFpHAPjiYNRgJsx3fRoolanDr6xCyOTQ/E47oCXY1KVcY6voNYm8TZ7FYbIFm8SyE4/SPN9rNt/HmfCRSWlgd+QSOcaParbgQkWaSanE6DU7zHn59i/CzZKZg/MkkaXqh97tHN/fLbfx4t7Ztg+Gm7nnThTgPbfD1K7v19okYjfTzERaEd00D59NHTOIxt3SpaquQanLz9BDLr3gz8jCpTgGmBILExYuspyK7h5xcI4JoGyywhgWXBBOheoij8YpJABb6Q1FpBIZ/TDOBNWUJNQTQOeZgVzmDAuQfHL0iJy2P03wr4jANmQ76Vf0ioo2SoXHdlUy54xWtVp+GhS1VCQ7a0oBvJYNvi0mYD5UjOnArmoRS7KZSv8wHQjkO+RuRFTlNplnsihKSnFWKiM1KN5R/5E8oEyH+VzqC1DHLCkvTAFm51eFrWwcAh9HxiLzVSPRyZVTxanKGKkqHHENpRoJKiLxq1A3Op8IsyUsm8S74vrgRDZkkG6LzOz+I0iuUMX+0PkKCnLnQ+NW8I5cumr0+lYMqIrXtz4eEOUKY49NCpculSIO7Tf1vhK3sJFK4Q7Z00LHOMzalpZN3AqUE/XjQRr7EDI984m1Xr+OzpssjDCKa5dFb42FS4y9opukDBwfH3iWcUCaE9ZQuZgOso4DEM7xoWGxypgDKCjd71S4LClMIarFAyySAGctTHwhPajaAs8pISspnlmKWIO4pNCMY9BL2WJZvBySGDl2ryLx4629lZy56lzFBY3UIH6Qk1c7oxzt3qLwk3uszYeyyuaZy8LxYGpUXof8QMN8aH8SbBeuzE/mSC+8RqWWz/zAkm6KYjBhXk3oIrbc2iJ15KqJAZAG7PnFXUbYW5Z7Vdl2oTJSC4qEtXPAvzi8JQPd1LedWjx1itfwF3VD+UtQ/2q9gY9dMnAgM5pjxjSXaPJhcaSqSoEh+b5U+sOLs7szVfjEhhQ5++/kI4kh2qOHEnzioypQNO9m3szxF1nDeeEQnw5QxVSaO8ALyp1h7R0xVHwr08WZcsKDYMXina7QlIq5JohIxUr9Iyri+AFaRXrvobiLRayi6JYvTF0QCaUxUrMJS7k8BnDbJJEtN29eVUkkVUVYkjV8tG0hdg2epBMxagqYprzfKkB2Qj+0a5mvCwuSTvMO3U0mfYZ8nOvplx9oUpLUx4c4mbJuir7uA4iIWCanHhE7VHp/hC6QcQ1M9wB0grPLNd2I04QCgzkVJwi2ucAhnD/AFhs1RTOGwbLWHTZjIHt7xVV5A0YccYhSiAA9MejCME2b9+cTVnG6FzB3vD0EQVsCdAT4PAcm2XKni0WhRylG4neoteJ5ho9JZFEG74x5vsLZr0lK81OoneXPvHqbNYFOCczGN3t1Zak00bLX3ir2jszyioFikhQ5ReAZQA0rHke3G2lJUJIz83ir0wwx9s9RFhKZhLzbjDugM5dzjplFub2VdV83FPxQp6fmSY8t2clfi0K7oaWu45UUqpmkjDHWLsyyW+QpXwzeSC6Ek3nGjnDTfBeuWtw1eKNUraMicLib0p63lXro1DBzGgntmLyZdoRcJzYlJ5tTgWMI/7rnS1D4spVM0OeLpLHweL8vtJItCMlHTA+BhRWvuK+2rUlSf5SqNUfR8I8qdqoAbPSNftHMk/BPw3Bo70jxyJaRV3iMo6fFjNcGTbSFO4cHKNHZluUlN0d5OQOI3A5xkLIixYZ7YeELDhXlwmU5emk2gqHytDg7v4xSs1oB5xccjLGOiXbz8poKqu8QFEGjwxLGE2i3d74UpIXMAr+lG+YrLcnE7oqTbO1Nq2h8MJDFSlOEoSxUonTQaqNAIXZdnm98SYQqYRlRKAfyI8HJxJi1ZrAJbqJvzFfPMIGH6Uj8iK0SPMxMxVaDx1pjFW64hSb7GicMBrBqtAArU6DH7RVvVwDnFt+fGLSJYNNMfE+cI9Ezp5UwSC2cQxJNOvrC7oBoCw1PW6DkzGLirvmd3CFD09H8S9Thuyw319IErD1y8+niEgAb8PflC7rDIvnpxG+BGkTCHJALQSlLNcR7QkywScWow9t8SiaQog1xZut0I7C5yvF/pnCrav+XMfG6rPcYszZT1GDebYRj7c/pXML60I4gqdXkIDx5uk2S1fhLHKBpQOdXFAIGZ27UySnBOXCKvbqQZktISWTKKFKDY95IA3YnwjzW0jdEtX97f8AIH3jK36ehhhjlN16La/bGcohSaA5ZtrFBMqdabRKU7lQUi8a3AwN88g0Z20yBLlrB+VTH/FVPWL9ntCghVw3VNQ+vk/hGVtnLX+OYz8VnatpRIUJNkpcrMXi5dy+qiYiR/ECfKUyk3mcEE1FcDCuzyJZLlV5jT+5WZ31ekbG09jyZ2IctRVUqFMyMYrCW9ua5TG6yibH2/TMUHlLvUoEv9o0Z3aRBIezKGbqQRzePOf9r/DN+TOL6KSD5pYxbVLtgH9WW3PwIi/W/At8fwodrNrS1shKCl6mPNfGAoB5x6K29mJ8wuZktzSgMVE9gVqqqeeAT6Vhzx29t55vHjNbYc22Bt8P2Wbxj0th7FyUB1JM1X92XIUjWFjRLIAloA3ACNPSSMsvPL0zbKilHjTkylH5j1WGKRp4QyQnfn6QpNOPLPabNZaEEY8oHZ9hEpIQkAJcnxxJ/UTmSXi2T6QJLxrJqM+wqQ7069or/hWUzlmz1i4LKakDGEKWCNDhXJt/KF2c7IXZwKMWxBrrrBypn5U6HlziAHJIrQPWgOOHOIVJvYODdblnCW4AkqzNPCu6AE26wug46awdwpxNQw4s+sLWW05waDWlznxy+8MKqNp0OMVZUvvGmJ+5iyVEUwNOETpBE5b4YANz3xCTV3HnErSMdB9P3hRVlQVLHhrDsGoJCy+mG+MHtnaG/DhJYmYpVP7UFvWNVNoGZbLh17xR21s0zggpUAqWq8ArAgpYgkVES08eplNs/aSlGxTVE17qn/xUD6RRl2L4stKdbyhuuy1KHmBG5a7G1kmodyULfSoJo+QjI2Ra0y5aJi8ACQBvSR4RllxJXb48ty6UZiPiWdVP0nzEHs7ADWhGO4jzhdltDpWn5SoFgeZgptk+HNoQhCkoWh8C6E3gDqFP4xMxtm42yy1xXpbJsGQlYmoQQzG6Cbl4ipCcBjlSNIJBVXdhw/eAsaCJYOBKavkemjsMMvuMMfpG8eXnbaddALh3OXhhETFUNDj7xXmzqE4cKZVxhktQNOn6PlDRaegZPWKVtlhlJCmJBo9RWiutIuoWHJq6Xr6+sLXKCiVVq3LiRxNIqQibJKYBJL79ePWUWbjpD41ZubQgIY1yodKU94ZLtDpBIyrnyh2HEKQbqiwAzNMaQSkkIdIvqrRwDq2FKHyg55ChUUING3503QySQ2VNOHCAWAlqGJOlOJwgiQC+RrwcAwmZIZV7XBsqw6bLZNBy1HQgSYJwyw9orT5Yc/pr5dCF2tPfGNBiNKY/SLDUCccYRqomgqYbvs8MTKYk3nBwGjdecWZllAwz6+sJMsBzoeUMi1nM13/aFfCKh3SMt0HMVeIG53zGbPHTEMaUMJcaclQu4awUyeDiM263wpdB4eG6FrViMYEzkpSn4QifNxAG7zG7poNZZyOf1itMd3bPXhE2rgJgJS5HP6GkSmaFOavThQesSPl0wf7w+zWcFb0CQHJ8fpEWyc00TJAMmYqYQlF0gk5uGoY8fYJZWhEtKbxc3XzA/MdEikWu0G3DPXcDmSlQSkJHeUo4J38Y29ibNMpJUSPiKZ82DfKNwpXMxl63Pj4b45fxxkHsytClUvoWPmcAhWZObZ04R6OSAlKE0N1gKDIAe0OlhwdFDDrhETZYCMNeLxvMZOmGfluXZappeo/fCOnymAKnBp6OYWlQYvievWLafkY+VcN0OJU1JoGJvceMOmyWD5n9/rWAYBhVxUvwhpmNyZ97w5BS5c6pGNCPLGJkTThjrTT9om65rVsAMwRgS1YNMoVLF93HTrGKHwWiWS5NHenGFuQHFKh9H1h043mAoRr9OsIAJDVwPT7s4OUmCUVDvdGvhSORLYFjw03xyZjfvq7PBX055/aAHBN7Hr64QawPCnkn7wlK2+nXOOWv29KwBJUDXCvqaxExVGyxhU6ZTypxhVjdq8vXlCC2ZqhizZNXNjhHSyz5jPw846/dNCx6pBBIyOJ5UOmApFaJVOILUL/bi/tDLpBJIhk4Ad0hw9cNMoUlLhm8T5QrFSrE3Bx1WErXpXd4wxaWA4Z6tCisAAnAxNGJa0gpKsDhjpu8YXOq12uZ3YHxgpskNnkab+cIloZ2LZOU1Y6+ETVFy5iUh1m6BdvFVAAaAk8YodpdtAvZ5JZI/qKHLPrGA2hYUqm37RMAs0oBbB+9M/v1bLLGK+xpJnrM9SEy5ajelIusS1BMU+rUGGcLPxbxllXhlJeVnYuzbpExQqB3Qfyg5/5GNoHIY6446wilHJyx8IZKlk1DUboQsZqaLK7pwWKl6gl6by9MIbJSKk5vjv1pFYLcKemVYdKS4/uxpVo0nDOoXKASWz9vvEyq4wcvC6RiPU+cGmzpDpGeb4UqDBBsopLuXrDvg5aVfziAcARh5jfBTEsS5NTlF7K3ZMxdXDg0rg745QRJJwNfaOmIqeXnzgc20hfITMTgemgLPMvZF2+tIdKwY6w1Es3ifPHy8Iv9ApVmo+JOXRhT0Bbf1voYuTE40LN7YRVVZvMndnhEAUsObwL605t5xyVA1Bc+8dKS5b0gFKCXOW58eEAcoHXh4feG/AKasWAdvv1jEWdYNc3cV3eUXrTaHYK3+EOEz5KVn5mAO6vjxHnFi4ktQ4Nv34RMxZALYYDdTH0iA4SXLmhNGLHNmh2aGw/Dc6Dz84BSCCwHnD5Ex3egB40q54w2VKTlnu+sKxUqvJQC71ZvSEKli6TuPtHR0SJ26Snuvu+kItCA6usAI6OhKLsXzcU134wqWKJHWLekdHQXoo5OPW+LEpIu8THR0TDM/KrrSESMef1jo6KSurqkHOnqY5A/lk5v7R0dCITVA4ekMmdeUdHRQBMGHWcV1Hvx0dDpLEz5DzgJUwsK6+0dHRUC9Nw5+0V7dRHWsdHRNCshVH4e0WJsoM7ZD0MdHQgXMlgAsGqIm0moOdY6Ohgcsvj1hBTlVHD3MdHRZQVnqQDr7xoSEC6mgwP/AOo6OhQ3/9k= 

                Kelompok Shufiyah (Sufi) telah menyebar di dunia Islam, sehingga kaum muslimin pun terbagi dua dalam menyikapi mereka. Ada yang mendukung dan ada yang menentang. Agar seseorang bisa menentukan berada di pihak yang mana dan bisa menyikapi mereka dengan benar, hendaknya ia mengetahui hakikat shufiyah yang sebenarnya. Benarkah pengakuan mereka sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i t? Apakah mereka sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah?
                Untuk mengetahui hakikat mereka tentunya kita harus merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih disertai penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
                Siapakah Shufiyah?
                Perlu diketahui, Shufiyah adalah satu lafadz yang tidak dikenal pada masa sahabat, juga tidak masyhur di masa generasi utama (sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in). Mereka muncul setelah masa tiga generasi utama. Ibnu Taimiyah t menyebutkan awal mula munculnya shufiyah adalah di Bashrah, Irak. (Lihat Fatawa, 11/5, Haqiqatu Ash-Shufiyah hal. 13)
                Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Sesungguhnya bid’ah tasawuf muncul setelah tahun 200 H. Tasawuf tidak ada di zaman Nabi n, di zaman sahabat maupun tabi’in.” (Mushara’ah hal. 376)
                Nukilan di atas menunjukkan bahwa shufiyah adalah kelompok baru dalam Islam ini.

                Pemikiran Shufiyah
                Bila seseorang mau adil menelaah pemikiran dan akidah amalan shufiyah, dia akan dapati banyak sekali pemikiran, akidah, dan amalan shufiyah yang menyimpang dari Islam yang dibawa Nabi Muhammad n.
                Sebagai bentuk keadilan, marilah kita perhatikan apa yang akan kami paparkan mengenai beberapa penyimpangan prinsip, amalan, dan akidah shufiyah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
                1. Shufiyah terpecah menjadi kelompok-kelompok atau thariqat-thariqat (tarekat-tarekat). Ada tarekat Tijaniyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Rifaiyah, dan lainnya. Demikianlah mereka berpecah-belah, padahal Islam melarang perpecahan dan hanya mengenal satu jalan saja. Allah l berfirman:
                “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)
                2. Sebagian shufiyah juga berdoa kepada selain Allah l. Mereka berdoa kepada nabi dan wali mereka yang masih hidup maupun yang telah mati. Padahal Allah l berfirman:
                “Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus: 106)
                Rasulullah n menyatakan:
                الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
                “Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
                Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t mengatakan: “Barangsiapa memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah l maka dia adalah musyrik kafir. Dalilnya adalah firman Allah l:
                “Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al-Mu’minun: 117) [Lihat kitab Tsalatsatul Ushul]
                3. Shufiyah meyakini adanya badal dan quthub, yakni orang-orang yang mereka yakini sebagai wali dan diyakini ikut andil mengatur alam1. Padahal Allah l berfirman:
                Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, serta siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31)
                4. Sebagian shufiyah meyakini wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti). Menurut mereka, tidak ada Khalik dan makhluk (Pencipta dan yang dicipta), semuanya adalah makhluk dan semuanya adalah ilah.
                5. Shufiyah membolehkan berjoget sambil menabuh rebana dan berdzikir dengan suara keras. Padahal Allah l berfirman:
                “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” (Al-Anfal: 2)
                Asy-Syaikh Muqbil t menerangkan: “Ibnul Qayyim t pernah menerangkan bahwa beliau pernah melihat orang-orang shufiyah berjoget di Arafah. Beliau melihat mereka berjoget diiringi rebana. Juga melihat mereka berjoget di Masjid Khaif.” (Mushara’ah hal. 388 secara ringkas)
                Asy-Syaikh Muqbil t juga mengatakan: “Pernah satu hari aku naik ke Masjidil Haram bagian atas. Aku dapati sekelompok besar manusia dari Turki, Sudan, dan Yaman, mereka berjoget sambil berputar-putar2….” (Musharaah hal. 387)
                Di antara mereka juga adalah Muhammad Kabbani3, yang berkunjung ke Jakarta dan berdzikir serta mengajak yang hadir berjoget.
                Kemudian mereka juga berdzikir dengan semata menyebut lafadz: اللهُ. Sebagian mereka hanya menyebut lafadz hu. Padahal Rasulullah n menyatakan:
                أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
                “Dzikir yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah…” (HR. At-Tirmidzi)
                6. Sebagian Shufiyah mengklaim tahu ilmu ghaib, padahal pengetahuan ilmu ghaib adalah kekhususan Allah l. Allah l berfirman:
                Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)
                8. Shufiyah mengklaim bahwa Allah l menciptakan Nabi Muhammad n dari cahaya-Nya, kemudian Allah l menciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad n. Namun Al-Qur’an mendustakan mereka. Allah l berfirman dalam Al-Qur’an:
                Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan kamu itu adalah Ilah yang Esa’.” (Al-Kahfi: 110)
                Firman-Nya tentang penciptaan Nabi Adam q:
                (Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad: 71)
                Adapun hadits: “Yang pertama diciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jabir.” adalah hadits maudhu’ (palsu).

                9. Shufiyah mengklaim bahwa ibadah kepada Allah l tidaklah dilakukan karena takut kepada neraka atau mengharapkan surga. Mereka berpendapat bahwa ibadah karena mengharapkan surga adalah kesyirikan, sebagaimana diucapkan oleh tokoh mereka Sya’rawi. (Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah hal. 20-21)
                Padahal Allah l berfirman:
                Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (Al-Anbiya: 90)
                Ibadah haruslah memenuhi tiga rukunnya: khauf (rasa takut), raja’ (rasa harap), dan mahabbah (rasa cinta).
                10. Sebagian Shufiyah mengklaim bahwa Allah l menciptakan dunia karena Muhammad n. Allah l mendustakan mereka. Allah l berfirman dalam Al-Qur’an:
                “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
                Allah l berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad n:
                “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yakin (ajal).” (Al-Hijr: 99)
                11. Mereka membaca shalawat-shalawat yang tidak diajarkan Rasulullah n. Bahkan shalawat-shalawat yang mengandung kesyirikan, yang tak akan diridhai oleh Rasulullah n.4
                12. Shufiyah mengklaim bisa melihat Allah l di dunia. Al-Qur’an menunjukkan kedustaan mereka, karena Allah l berfirman kepada Nabi Musa q:
                Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (Al-A’raf: 143) [Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitabi was Sunnah hal. 8-21]

                1 Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang syirik. Lain halnya bila yang dimaksud dengan istilah ini tidak sampai pada tingkatan rububiyah (ikut mengatur alam). -red
                2 Tarian ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan whirling dervish. Dervish (darwis) adalah sebutan untuk penarinya. -red
                3 Muhammad Hisham Kabbani, tokoh tarekat Naqsyabandiyah Haqqani. Oleh media, ia disebut-sebut sebagai “syaikh” sufi paling berpengaruh di dunia saat ini. -red
                4 Di antaranya shalawat yang mereka namakan shalawat Nariyah. Ini adalah shalawat yang berisi kesyirikan karena disebutkan bahwa Rasulullah n mampu menghilangkan kesulitan, melapangkan kesusahan, dan menunaikan kebutuhan. (Lihat Al- Firqatun Najiyah)
                Baca selengkapnya Bagikan

                Sorotan

                tinggalin jejak kalian