Archives

MUI Disusupi Syiah

Statement Umar Shihab mengenai sahnya Syiah sebagai mazhab dalam Islam, seakan menjadi anomali dari aspirasi tingkat bawah yang menginginkan fatwa tegas perihal kesesatan Syiah.

Menurut Ketua MUI Sampang, KH. Bukhori Masum, terjadi sejumlahan perbedaan pada sisi ushul terkai alirah Syiah dengan Islam. Antara lain, Syiah memiliki tiga syahadat berbeda dengan Islam yang hanya mengakui dua kalimat syahadat.


Dalam menjalankan sholat pun Syiah hanya mengenal 3 waktu dalam sehari, berbeda dengan ajaran Islam dimana shalat wajib dilaksanakan 5 waktu. Syiah juga mengharamkan sholat jum'at dan menuding bahwa Al-quran yang beredar sekarang bukan asli lagi.

"Saya nyatakan syiah di sampang adalah alirat sesat," terangnya kepada wartawan, Sabtu (31/12/2011).

Menurutnya, data dan informasi tersebut diperoleh dari salah satu mantan santri Syiah yang sekarang sudah kembali ke ajaran Islam, "Kami mendapat informasi ajaran-ajaran syiah yang menyesatkan ini dari beberapa mantan santri Syiah," tukasnya.

Karena itu, MUI Sampang hingga kini terus berusaha agar aliran sesat Syiah dibekukan dari Madura.

“Pembekuan ini sudah kami minta dari dulu. Kalau dilarang nanti dibilang tidak ada undang-undangnya. Nah, Pembekuan seperti apa? Ya pembekuan sebagaimana halnya aliran Ahmadiyah,” lanjutnya.

Menurut Habib Ahmad Zein bin Al Kaff, pengurus MUI Jawa Timur sekaligus wakil rois syuriyah PWNU Jatim, belum dikeluarkannya fatwa tegas mengenai aliran Syiah di Indonesia, tidak terlepas dari manuver Umar Shihab di jajaran MUI Pusat.

Dengan tegas ulama yang sudah menulis puluhan buku perihal kesesatan Syiah ini mengatakan bahwa Umar Shihab adalah biang dari kekacauan di MUI.

“Umar Shihab ini pengacaunya MUI. Dulu dia didukung dari Palu, tapi sekarang orang Palu sudah menarik dukungan dari Umar,” tambah Habib yang telah menulis puluhan buku tentang kesesatan Syiah ketika diwawancara Eramuslim.com, Jum’at (10/06/2011).

Agar kisruh mengenai Syiah di MUI cepat mereda, Habib Zein menghimbau perlunya tindakan untuk mengeluarkan tokoh-tokoh pembela Syiah di MUI. Langkah ini dirasa ampuh agar kedepannya MUI memiliki sikap satu suara untuk memfatwakan kesesatan Syiah.

“MUI harus dengan tegas mengeluarkan orang-orang berbau syiah. Seperti Umar Shihab dan seorang Doktor di Komisi Hukum yang keluaran Qum Iran,” tambahnya. Sayang, Habib Zein tidak merinci lebih jauh siapakah nama Doktor tersebut.

Senada dengan Habib Zein, KH. Kholil Ridwan, Ketua MUI Bidang Budaya juga mengamini adanya elemen-elemen Syiah di tubuh MUI. Ia mengatakan ada segelintir pengurus MUI yang membela Syiah, ”Di MUI ada ulama yang membela kepentingan Syiah sehingga tidak ada fatwa sesat Syiah,” kata pimpinan Ponpes Husnayain ini kepada wartawan pasca memberikan orasi dalam acara Forum Ahlu Sunnah Bersatu Menolak Syiah, Juni 2011 di DDII Jakarta.

Terkait fatwa, KH. Kholil mengakui bahwa sampai saat ini MUI sebagai kumpulan ulama yang mayoritas berpaham Sunni, tidak memiliki fatwa kesesatan Syiah. Dari tahun 1984. MUI masih dalam tahap himbauan, bukan vonis sesat

“Pada tahun 1984, MUI hanya mengeluarkan himbauan paham Syiah. Yang Saat itu ditandatangani oleh Prof Ibrahim Hosen," tukasnya.

Sikap ketidakjelasan inilah yang mengundang kritik tajam dari Habib Zein selaku pengurus MUI Jatim. Ia menilai fatwa MUI tahun 1984 masih mengandung banyak kelemahan.

“Mereka (MUI, red.) hanya menyuruh umat mewaspadai kesesatan syiah, tapi tidak menganjurkan kepada masyarakat agar berhati-hati bahwa syiah itu aliran sesat. Ini kan permainannya Umar,” katanya kepada Eramuslim.com.

Oleh karena itu, Habib Zein mengatakan sudah saatnya MUI mengeluarkan fatwa sesat agar akidah umat terselamatkan. “Selamatkan umat ini dengan mengeluarkan fatwa tegas bahwa Syiah keluar ajarannya dari Islam dan sesat. Sesuai dengan Quran dan Hadis. Jadi sekarang kurang tegas,” pungkasnya.
Baca selengkapnya Bagikan

LEBIH BAIK PAKAI PAMPERS DARIPADA MATI DI TANGAN AL QASSAM


Pasukan Al-Qassam memergoki tentara Israel mengenakan Pampers, karena mereka takut buang hajat di luar tank

Hidayatullah.com”Bukan hanya bayi yang mengenakan popok alias pampers. Tetapi tentara Yahudi-Israel juga mengenakannya. Tapi bukan karena mereka suka ngompol. Ini disebabkan karena mereka takut buang air di luar kendaraan tempur karena khawati serangan para pejuang Al-Qassam.
Mungkin karena ketakutan itulah yang membuat alas an pasukan Israel hingga memutuskan mengenakan Pampers. Gara-gara sikapnya yang lucu ini, para pemuda Palestina memberi julukan baru pada mereka dengan sebutan Jaisy Pampers (tentara Pampers).
Julukan ini bukanlah tanpa dasar, para pejuang Al-Qassam berhasil mengungkap bahwa pasukan Israel memakai penampung air seni, yang biasa dipakai anak-anak atau para manula.
Lewat jumpa pers, di hadapan para wartawan yang ditayangkan channel Al Quds, pasca pertempuran Al Furqan, diungkap hal itu beberapa waktu lalu. "Di mana keberanian tentara itu (Israel), yang menyerang dengan dukungan teknologi. Dari udara, dari atas awan, dari laut, serta dari dalam tank mereka yang terlindungi, untuk menghadapi para pemuda yang tidak memiliki banyak persenjataan, akan tetapi mereka bisa mengalahkan," ujar pejuang Al-Qassam
"Dan kami akan menggambarkan kepengecutan para tentara Zionis itu, adalah hal yang paling aneh, bahwa yang selalu kita nilai sebagai militer yang terkuat di dunia ternyata mengenakan Pampers, dan mereka tidak mau keluar dari tank, untuk menghadapi para pejuang," tambahnya.
Kontan, kabar itu menjadi bahan tertawaan penduduk Palestina serta ramai dibicarakan dalam forum-forum diskusi di internet. Bermacam-macam komentar beredar, "bisa-bisa pemerintahan Israel akan memboikot produk Pampers, karena telah menyebabkan mereka kalah perang", "pesawat tempur Israel terpaksa kembali ke pangkalan mereka, karena pilotnya lupa belum mengganti Pampersnya yang lama", ada juga komentar, "militer Israel telah menghubungi perusahaan Pampers agar memperbesar ukuran, agar lebih bisa tahan lama".
Baca selengkapnya Bagikan

Sorotan

tinggalin jejak kalian